Bahagia itu sederhana• Hidup adalah anugerah ☺ nikmati proses!

Jumat, 10 Mei 2013

RESUME DAFTAR PERLENGKAPAN BAYI LAHIR

- Ahaaa! Nemu juga nih artikel... Biar ga kebablasan deh ah..! :D -

Berikut ini akan dijabarkan apa saja yang diperlukan bayi pada masa awal kelahirannya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan ala Mommy Gadget.
Daftar ini disusun dalam beberapa bagian sesuai klasifikasi untuk memudahkan memahaminya.
Daftar ini dapat berlaku hingga usia bayi 1-2 bulan.

Pakaian
di dalam rumah:
6 bh baju dalam berbagai ukuran lengan (lengan panjang, lengan pendek dan tanpa lengan)
6 bh kaos dalam
2 (atau 3 di musim hujan) lusin popok kain
6 bh popok tahan air
1 lusin bedong
1 lusin alas ompol
6 pasang sarung kaki + sarung tangan

untuk ke luar rumah:

popok sekali pakai ukuran S
6 bh celana panjang + pendek (pop)
1-2 buah kaos kaki/sepatu bayi
2 bh cardigan/jaket/baju hangat/selimut bayi bertopi
optional:
celana tutup kaki
baju untuk bepergian, termasuk jumper/baju monyet
aksesoris seperti: bando, topi dll
saputangan handuk untuk mengusap keringat


Perlengkapan Mandi & Ganti Pakaian

bak mandi
perlak mandi
handuk besar
sabun mandi
shampoo
baby lotion/baby cream
baby oil
kapas 1 bungkus besar
cotton buds (pilih yang kecil)
gunting kuku bayi
2 bh ember kecil plastik bertutup (1 untuk baju kotor dan ompolan, 1 untuk kotoran buang air besar)

Perlengkapan Tidur

kelambu/kojong/tudung
perlak besar
perlak kecil
optional:
boks bayi + seprai
Mainan
mainan yang digantung
mainan yang digenggam (lebih baik jika bergemerincing)
kaset/CD untuk didengar

Perlengkapan Melahirkan & Menyusui

2 bh gurita ibu
BH menyusui
breast pads
penutup dada saat menyusui (appron)
bantal menyusui
kantung ASI untuk ibu bekerja
botol susu + dot

(Source : Dari Sini )

Awas! Bedak Dan Minyak Telon Bahaya Bagi Bayi

Aroma tubuh bayi yang wangi dan lembut seringkali membuat kita selalu ingin menciumnya. Wangi yang berasal dari bedak ataupun minyak yang dibalurkan bayi menunjukkan ciri khas buah hati.
Namun, amankah pemakaian produk-produk tersebut bagi si mungil? Dokter Spesialis anak RS Pondok Indah Karel Staa menegaskan, pemakaian bedak, minyak kayu putih, minyak telon dan pewangi (cologne) sangat berbahaya untuk kesehatan bayi di masa datang.

“Partikel-partikel yang terkandung di dalam bedak bayi dan minyak itu bahaya jika dihirup bayi,” kata Karel Staa usai diskusi bertajuk ‘Lindungi Semua Perempuan dari Kanker Serviks’ di RS Pondok Indah, Jl. Metro Duta, Jakarta Selatan, Sabtu (10/5/2008).
Produk tersebut, kata Karel, dapat membahayakan fungsi paru-paru. “Misalnya batuk yang tidak sembuh. Nanti setelah diperiksa, biasanya dokter akan menyuruh memberhentikan pemakaian bedak dan lain-lain. Setelah itu batuknya hilang. Itu bisa saja respirasi paru,” imbuh dia.
Baluran minyak dipercaya dapat memberi kehangatan untuk bayi. Namun hal ini juga dibantah Karel. “Kata siapa? Dari mana? Kulit bayi kan belum berfungsi. Lalu mau ditutupi produk itu, bagaimana pori-porinya bernafas?” ujarnya.
Karel menuturkan, pernah mendapati salah satu pasiennya mengeluhkan kulit anaknya gosong. “Ternyata setelah diperiksa, bayinya dibalurin minyak kayu putih 100 persen,” tutur dia.
Ditambahkan dia, kulit bayi seharusnya dibiarkan apa adanya. Meski bayi baru dapat merasakan rangsangan di usia di atas 1 tahun, pemakaian produk tetap tidak dianjurkan. “Itu kan tradisi Indonesia, dari orang tua. Biarkan bayi pure. Kecuali ada indikasi medis seperti iritasi, itu harus anjuran dokter,” pungkasnya.
Sumber: www.detiknews.com

(Source : Dari Sini )

Bayi Tidak Boleh Dipakaikan Gurita

Begitu kata dokter, kebalikan dari kebiasaan yang terjadi selama ini. Memang, tak sedikit kebiasaan turun-temurun dalam merawat bayi yang bertentangan dengan dunia medis. Bagaimana kita menyikapinya?

Dalam merawat sang buah hati, hampir bisa dipastikan kita akan “dihujani” oleh segala macam nasihat ataupun larangan dari lingkungan, entah kakek-nenek, orang tua, kaum kerabat, maupun tetangga. Umumnya, nasihat/larangan tersebut merupakan kebiasaan-kebiasaan praktek perawatan bayi yang bersifat turun-temurun.
Namun, “seringkali nasihat dan larangan tersebut tak bisa diterima akal sehat, meskipun ada pula yang kedengarannya masuk akal,” ujar dr. Eric Gultom, Sp.A. dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo dalam cara Ibu Bayi dan Balita di ANTeve, kerja sama nakita dengan PT Endrass Perdana. Misalnya, bayi tak boleh digendong dengan kedua tungkai memeluk tubuh ibu agar kelak tungkainya tak pengkor, bengkok, atau melengkung. Begitu pula dengan nasihat untuk membedong bayi agar kelak bentuk kakinya jadi bagus.

“Kedengarannya memang masuk akal bahwa cara menggendong dengan posisi demikian mungkin saja akan menyebabkan pengkar. Apalagi pada kenyataannya, saat lahir, tungkai bayi memang penampilannya bengkok atau melengkung,” tutur Eric yang juga berpraktek di RSIA Lestari, Cirendeu dan RS Medistra. Tapi, lanjutnya, bila dijelaskan dengan cara lain, akan tampak penjelasan tersebut kurang masuk akal.
Semua bayi, tutur Eric, kakinya memang akan tampak melengkung ketika lahir. Pasalnya, rongga rahim sangat terbatas ruangnya. Nah, agar si bayi cukup dalam rongga rahim, posisinya harus sedemikian rupa sehingga kedua tungkai dalam posisi bersila dan melengkung ke atas. “Tentunya dalam posisi demikian selama 9 bulan, akan menyebabkan kedua tungkai penampilannya melengkung ketika lahir.” Selain itu, tulangnya masih lebih lunak dan sedang bertumbuh sehingga gampang sekali terbentuk melengkung.
Kendati demikian, tungkai yang melengkung ini berangsur-angsur akan lurus kembali sejalan dengan pertumbuhan bayi. Kecuali bila ada faktor genetik dimana salah satu orang tua penampilan tungkainya tak lurus atau melengkung, akan diturunkan pada anaknya. Jadi, tukas Eric, “melengkung tidaknya tungkai tak tergantung posisi ketika menggendong bayi.” Begitupun bila bayi tak dibedong, kakinya akan tumbuh lurus sesuai potensi genetik yang dimilikinya.
Membahayakan Bayi
Berbagai praktek perawatan bayi yang mengikuti kebiasaan-kebiasaan turun-temurun ini, menurut Eric, seringkali bukan hanya kurang dapat diterima dasar ilmiahnya, tapi juga bisa merugikan. Misalnya, pemakaian gurita untuk bebat perut bayi. Kata orang, supaya bayi jangan masuk angin.” Ada pula yang bilang, agar perutnya enggak besar dan pusarnya enggak bodong.

Dalam dunia medis, tuturnya, tak dikenal istilah masuk angin. “Istilah ini mungkin maksudnya aerophagia, yaitu bayi banyak mengandung udara di lambungnya sehingga terlihat kembung. Hal ini bisa disebabkan bayi menangis lama atau cara minum susu botol kurang betul.” Jadi, Bu-Pak, sama sekali tak ada kaitannya dengan pemakaian gurita.
Begitupun dengan perut besar dan pusar bodong. “Besar kecilnya perut ditentukan oleh ketebalan kulit, lemak kulit, dan otot perut yang sanggup menahan daya dorong isi perut atau usus keluar. Secara alamiah, usus, kan, berusaha mendorong keluar,” terang Eric. Nah, pada bayi, lanjutnya, kulit maupun lemak dan ototnya masih tipis karena belum tumbuh, sehingga belum mampu menahan ususnya yang mendorong keluar. Jadilah si bayi kelihatannya seperti kembung, perutnya agak besar. “Nanti, bila kulit dan lemak serta ototnya sudah lebih tebal, akan lebih sanggup menahan daya dorong tersebut.” Jadi, tak akan gendut lagi, kecuali kalau makannya memang banyak.

Sama halnya dengan pusar bodong, “Bila perutnya membesar, tentu pusarnya akan menonjol, dong,” tukas Eric. Tak demikian halnya setelah ketebalan kulit, lemak kulit, dan ototnya bertumbuh menjadi lebih tebal. Jadi, bukan lantaran dipakaikan gurita maka pusarnya jadi enggak bodong. Jikapun si bayi sampai punya pusar bodong, menurut Eric, karena bagian dari puntung tali pusatnya memang sejak awalnya sudah lebih besar. “Jadi, sejak lahir pusarnya memang sudah bodong, bukan karena tak dipakaikan gurita.”
Pemakaian gurita, tutur Eric lebih lanjut, sebenarnya justru dapat merugikan bayi. “Bayi jadi kepanasan dan banyak keringat sehingga bisa mengalami keringet buntet di bawah lapisan gurita.” Selain itu, bila pemakaian gurita terlalu ketat, “akan mengganggu gerak pernafasan bayi.” Soalnya, bayi bernafas lebih dominan menggunakan gerak pernafasan perut.


Jadi kalau kita bebat dia erat-erat di bagian perut, tentu akan mengganggu pernafasannya.”
gurita secara penelitian ternyata dapat meningkatkan kejadian gastroesofageal refluks (GER). Apakah GER itu? GER adalah kembalinya makanan yang telah masuk ke dalam lambung.
Apa bedanya dengan muntah? Muntah termasuk dalam GER. Tetapi gampang sekali melihat anak muntah, karena isi lambung keluar melalui mulut. Hal yang paling ditakutkan adalah isi lambung keluar kembali, tetapi tidak sampai di mulut. Jadi hanya sampai di kerongkongan saja. Keadaan inilah yang menyebabkan terlukanya dinding saluran makan dan pada akhirnya si anak akan mengalami muntah terus menerus sampai dia besar nanti.
Bagaimana melihat anak mengalami GER atau tidak? Bisa dilihat salah satunya dari jumlah gumoh. bila terjadi gumoh 1 kali tiap minum susu, hal itu tidak bermasalah. Tetapi bila terjadi gumoh walaupun bayi tidak menelan sesuatu berarti orang tua harus hati-hati. Jika perlu, hendaknya berkonsultasi dengan dokter. (Dr. Herbowo SpA)
Sumber: http://rumahkusorgaku.multiply.com

(Source : Dari Sini  )
 
Blogspottemplate